Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label burung endemik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label burung endemik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2012

Nuri Talaud ( Eos histrio )


Nuri Talaud ( Eos histrio ) adalah nuri arboreal endemik di Indonesia. Mereka tergolong terancam punah, disebabkan mereka diburu untuk perdagangan hewan peliharaan dan disebabkan juga kehilangan habitat dan perusakan habitat. Nuri Talaud sekarang hanya terbatas di sekitar Pulau Talaud, Sulawesi Utara. Dan lebih dari itu juga, mereka menghilang selama abad ke-20 dari Sangihe, Siau, dan Tagulandang. Populasi mereka diperkirakan 5-10.000 ekor. Jadinya, spesies mereka cepat menurun.

Kamis, 16 Agustus 2012

Merpati Hutan - Metalik ( Columba vitiensis )

Metallic Pigeon (Columba vitiensis)

Merpati-hutan Metalik adalah spesies burung yang mempunyai paruh, berdarah panas, dan membiak dengan cara bertelur. 
Merpati-hutan Metalik berukuran sedang, dengan panjang sekitar 37cm, dalam keluarga Columbidae. Burung jantan mempunyai kepala bewarna ungu dan hijau berkilau, sayap hitam dan hujung ekor tegak, iris mata merah, paruh kuning, dan kaki keunguan. 

Ia mempunyai bulu dada perang pudar atau hijau keunguan bergantung subspesies. C. v. vitiensis dari Fiji mempunyai dada pudar, sementara subspesies C. v. halmaheira dari kepulauan Maluku mempunyai jambul kerkilat. Jantan betina serupa. Yang muda pudar berbanding yang matang.

Rabu, 15 Agustus 2012

Merpati Hutan - Perak ( Columba argentina )


Berukuran besar (40 cm), berwarna abu-abu pucat. Sayapnya berwarna hitam, ekor dan tubuh bagian bawah keabuan. Perbedaannya dengan Pergam laut: tubuh bagian atas abu-abu (bukan putih), warna hitam pada separuh ekor, dan lingkaran mata merah. Iris coklat, keliling mata yang gundul merah, paruh hijau-pucat dengan pangkal merah, kaki merah 

Kep. Simeulue, Mentawai (P.Sipura, Pagai utara),Kep.Riau (Karimun Besar, Batam, Bintan dan Kepulauan Lingga/Saya), Kep. Anambas, Natuna utara dan Kep. Karimata di ujung barat Kalimantan. Juga pernah tercatat di P. Burong (Malaysia), akan tapi, sekarang di pulau itu sudah punah .


Merpati hutan perak mirip dengan Pergam laut, akan tetapi ada perbedaan antara merpati hutan perak dan pergam laut, yaitu pergam laut tidak mempunyai lingkaran merah pada mata, dan warna yang lebih putih.
Mendiami pulau-pulau kecil, tetapi jarang ditemukan karena adanya penebangan hutan. Kadang-kadang berbaur dengan Pergam laut.

Selasa, 14 Agustus 2012

Kipasan Ekor-Merah ( Rhipidura phoenicura )



Kipasan Ekor-merah ( Rhipidura phoenicura ) adalah spesies burung dari keluarga Rhipiduridae. Burung ini adalah hewan endemik dari Indonesia. Habitat burung Kipasan Ekor-merah adalah wilayah montane dengan iklim subtropis atau tropis.

Senin, 13 Agustus 2012

Cucak Timor ( Philemon buceroides )

Cucak Timor ( Philemon buceroides ) adalah burung dalam keluarga Meliphagidae. Burung ini juga dikenal sebagai koak kao di daerah Nusa Tenggara Barat ( NTB ). 
Burung ini pada habitatnya ditemukan di Australia dan Indonesia. Habitat asli burung ini adalah daerah kering hutan subtropis hingga tropis, hutan lembap dataran rendah, dan daerah hutan bakau. Salah satu daerah konservasi cucak Timor ini adalah di taman buru Pulau Moyo, NTB.
Umumnya burung ini memakan buah-buahan dan biji-bijian, namun selain itu kadang-kadang burung ini juga memangsa serangga, ikan kecil, dan katak. Burung ini menjadi maskot Kota Mataram sehingga dalam lambangnya terdapat gambar cucak Timor.

Minggu, 12 Agustus 2012

Gosong Sula ( Megapodius bernsteinii )




Gosong Sula ( Megapodius bernsteinii ) adalah spesies burung dari keluarga Megapodiidae. Burung ini hanya dapat ditemukan di Indonesia, dengan habitat pada hutan subtropikal atau hutan tropis, hutan dataran rendah subtropis atau tropis, hutan mangrove subtropis atau tropis, dan dataran dengan tumbuhan perdu beriklim subtropis atau tropis. Gosong Sula dalam keadaan terancam akibat kehilangan habitat asli.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Gelatik Timor ( Padda fuscata )


Gelatik Timor ( Padda fuscata ) adalah sejenis burung pengicau berukuran kecil, dengan panjang lebih kurang 12-14 cm, dari suku Estrildidae. Burung gelatik Timor memiliki kepala hitam, pipi putih dan paruh abu-abu, dengan tubuh memiliki nuansa warna coklat tua dan bulu perut putih. Ukurannya relatif kecil dibandingkan kerabat dekatnya, gelatik jawa.

Perilakunya mirip dengan gelatik jawa namun tersebar di bagian ujung timur Nusa Tenggara. Menyukai daerah terbuka dengan banyak rerumputan dan dekat aliran air. Berkawanan 30-50 ekor walau kadang-kadang dijumpai rombongan sampai ratusan atau ribuan. Suara mencicitnya mirip dengan gelatik jawa pula, cip-cip-cip- ... berulang-ulang. Jenis ini terancam karena berkurangnya ruang hidup dan meningkatnya penangkapan. 


Burung ini endemik dari Indonesia dan di alam ditemukan di hutan padang rumput, sawah dan lahan budidaya di Pulau Jawa dan Pulau Bali. Sekarang, spesies ini dikenali di banyak negara di seluruh dunia sebagai burung hias.

Rabu, 08 Agustus 2012

Burung-Kucing Tutul ( Ailuroedus melanotis )


Burung-kucing Tutul ( Ailuroedus melanotis ) yang juga diketahui sebagai Burung-kucing Telinga-hitam, adalah spesies namdur atau burung kucingyang dapat ditemui di utara Queensland, Australia, pulau-pulau dekat Guinea Baru, seperti Kepulauan Misool, Papua, dan Kepulauan Aru.

Jumat, 03 Agustus 2012

Sikatan Aceh ( cyornis ruckii )

Berukuran agak besar (17 cm), berwarna biru. Jantan: kepala, tenggorokan, dan dada biru; tunggir dan penutup ekor atas biru berkilap. Perbedaannya dengan Sikatan biru yang masih muda: warna lebih gelap, tungging biru berkilat, paruh lebih besar. Betina:tubuh bagian atas coklat-merah bata, tunggir dan ekor merah bata, dada merah karat menjadi keputih-putihan pada perut.


Perbedaannya dengan Sikatan biru-muda betina: dada merah karat.Remaja: tubuh bagian atas coklat berbintik kuning tua, tubuh bagian bawah bersisik hitam menjadi keputih-putihan pada perut tengah. Dahi, lingkar mata, tenggorokan, dandadanya merah bata. Iris coklat, paruh dan kaki hitam. Habitat burung ini adalah hutan sekunder dataran rendah.

Kamis, 02 Agustus 2012

Paok Pancawarna ( Pitta guajana )


Burung berukuran sedang (22cm) dan bernama latin ( Pitta guajana ) ini memiliki tubuh berwarna keemasan bergaris-garis. Kepala hitam dengan alis lebar kuning mencolok yang khas. Punggung dan sayap coklat dengan garis sayap putih, ekor biru, dan dagu putih. Burung betina berwarna lebih suram dan lebih merah.Iris coklat, paruh dan kaki hitam.

Suara burung ini agak keras “pa-oh” suara tinggi “pieuw” atau suara lembut “parrrr”.

Persebaran sub ras guajana (Statius Muller, 1776): Jawa dan Bali. Dada dan sisi lambung bergaris-garis hitam dan kuning. Tidak terdapat bercak biru pada dada bawah. Habitat burung ini adalah menyukai hutan primer dan hutan sekunder tertutup sampai ketinggian 1500mdpl., berlompatan cepat di sepanjang lantai hutan atau batang pohon mati. 



Kadang-kadang ditemukan pada semak rendah, bersarang di pohon salak,kopi, atau rotan. Lebih sering terdengar suaranya daripada terlihat. Pada malam hari tidur di vegetasi rendah, hanya setinggi 1-3 meter di atas tanah. Burung ini juga tercatat dalam daftar merah IUCN : Resiko Rendah (LC)

Rabu, 01 Agustus 2012

Paok Sintau ( Pitta caerulea )

Burung yang berukuran sangat besar (27 cm) dan bernama latin ( Pitta caerulea ) ini memiliki ciri-ciri  . Jantan: Kepala abu-abu kekuningan dengan alis, mahkota, tengkuk, dan kerah hitam halus. Tubuh bagian atas biru, tubuh bagian bawah abu-abu kuning. Betina: tubuh bagian atas coklat kemerahan, warna biru hanya pada tunggir dan ekor. Remaja: coklat gelap, berbintik burik, dan bersisik kuning tua. Iris abu-abu gelap, paruh hitam, kaki merah jambu.

Suara burung ini saat berbiak, burung jantan bersiul perlahan meratap, dengan nada dan modulasi suara menurun. Sura yang mirip juga disiulkan oleh betina dan anak saat meninggalkan sarang.
Sedang persebaran burung ini meliputi : 

  • caerulea (Raffles, 1822): Myanmar bagian selatan (Tenasserim bagian selatan), Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaysia dan Sumatera.
  • hosei (Baker, 1918 ): Kalimantan bagian utara, barat daya, tengah dan timur.
Kebiasaan burung ini hidup sendirian atau berpasangan, menjelajah lantai hutan yang gelap dan lembab di pinggir hutan dan hutan sekunder sampai ketinggian 1200 mdpl. Membelah siput pada landasan batu. Terbang jauh saat ada gangguan . Dan juga burung ini tercatat dalam daftar merah IUCN : Hampir terancam (NT)

Selasa, 31 Juli 2012

Paok Kepala-Biru ( Pitta baudii )


Burung bertubuh kecil (17cm) dan bernama latin ( Pitta baudii ) ini secara sepintas tampak warna punggung merah-sawo matang dan ada garis putih mencolok pada sayap yang hitam. Jantan: punggung merah padam, mahkota dan ekor biru terang, dada atas dan garis mata hitam (kontras dengan tenggorokan yang putih), dada bawah dan perut biru ungu gelap (yang sering terlihat hitam). Betina: berwarna lebih suram, tubuh bagian atas merah-sawo matang, ekor biru, tubuh bagian bawah coklat pucat, tenggorokan abu-abu pucat. Iris abu-abu, paruh hitam dan kaki berwarna putih gading.

Siulan lembut menurun: “porr-y-or” atau “porr-or”.

Burung endemik Kalimantan atau hanya dapat ditemukan hidup di Pulau Kalimantan ini tercatat di dalam daftar merah IUCN : Rentan (VU) & Perlindungan: UU  No. 5/1990, PP  No. 7/1999

Senin, 30 Juli 2012

Paok Kalung-Biru ( Pitta Arquata )

Burung bertubuh kecil (17cm) dan bernama latin ( Pitta Arquata ) ini memiliki kepala coklat kemerah-merahan dengan strip mata biru gemerlap sempit. Tubuh bagian atas hijau kebiruan suram. Tubuh bagian bawah merah terang, dengan pita bersinar melintasi dada berupa bulu runcing berwarna biru. Remaja: coklat dan berbintik-bintik.Iris abu-abu, paruh hitam kemerahan dan kaki abu-abu coklat seperti batu.


Burung jenis ini endemik kalimantan atau hanya dapat ditemukan di Pulau kalimantan
Meskipun ada catatan perjumpaan di hutan dataran rendah, namun lebih sering dijumpai di hutan primer perbukitan pada rentang ketinggian antara 700 – 1600 mdpl. BVurung ini tercatat dalam daftar merah IUCN : Resiko Rendah (LC)

Sabtu, 28 Juli 2012

Paok Topi-Hitam ( Pitta venusta )

Burung bertubuh kecil (16cm) dan bernama latin Pitta venusta ini mempunyai kepala hitam, perut merah, Ada bercak biru pucat pada sayap dan garis alis biru pendek di belakang mata. Remaja: Seluruh bulu coklat gelap, garis alis biru. Beriris coklat, paruh dan kaki hitam.

Burung yang endemik sumatera atau hanya dapat ditemukan hidup di kawasan pegunungan Pulau Sumatera Khusus: catatan terpublikasi terakhir pada tahun 1918. Beberapa ahli menganggapnya sebagai salah satu ras dari Paok Delima.




Pernah ditemukan di pegunungan Bukit Barisan, dari Ophir ke selatan sampai Dempu. Jarang terdapat di hutan perbukitan pada rentang ketinggian antara 400 – 1400 mdpl.
Daftar merah IUCN : Rentan (VU)

Rabu, 18 Juli 2012

O‘ahu ‘Ō‘ō ( Moho apicalis )

O‘ahu ‘Ō‘ō ( Moho apicalis ) adalah anggota burung penghisap madu Hawaii yang telah punah yang masuk kedalam genus ‘Ō‘ō (Moho). O‘ahu ‘Ō‘ō jantan mencapai panjang 30.5 sentimeter. Panjang sayap O‘ahu ‘Ō‘ō 10.5 sampai 11.4 sentimeter. O‘ahu ‘Ō‘ō wanita lebih kecil. Habitat O‘ahu ‘Ō‘ō terletak di hutan pegunungan di O‘ahu. Ketika John Gould pertama kali mendeskripsikan O‘ahu ‘Ō‘ō tahun 1860, burung ini sudah punah selama 23 tahun


Bukti terakhir adalah koleksi tiga burung oleh penyelidik alam Ferdinand Deppe tahun 1837. Ia menemukan spesimen tersebut di bukit di belakang kota Honolulu. Setelah survey yang dipimpin oleh Robert C. L. Perkins gagal antara tahun 1880 dan 1890, burung ini dideskripsikan hampir punah. Kini terdapat tujuh spesimen di BerlinLondonNew York dan Cambridge (Massachusetts). Akibat kepunahannya adalah karena datangnya nyamuk, penghancuran habitat oleh ternak dan kambing, diserang tikus dan perburuan.

Senin, 16 Juli 2012

ʻŌʻō Hawaiʻi ( Moho nobilis )


ʻŌʻō Hawaiʻi ( Moho nobilis ) adalah spesies burung penghisap madu Hawaii yang telah punah. ʻŌʻō Hawaiʻi berasal dari genus Moho. ʻŌʻō Hawaiʻi pertama kali dideskripsikan oleh Blasius Merrem pada tahun 1786. ʻŌʻō Hawaiʻi mencapai besar 32 cm. Panjang sayap ʻŌʻō Hawaiʻi sepanjang 110 sampai 115 mm. Ekor ʻŌʻō Hawaiʻi mencapai panjang di atas 19 cm. Bulu burung ʻŌʻō Hawaiʻi berwarna hitam mengkilap dengan coklat pada perut. ʻŌʻō Hawaiʻi diburu oleh suku asli Hawaii. Bulunya digunakan untuk jubah dan mantel. Burung ini terakhir kali terdengar pada tahun 1934 di lereng Mauna Loa.

Minggu, 15 Juli 2012

‘Ō‘ō Kaua‘i ( Moho braccatus )


‘Ō‘ō Kaua‘i ( Moho braccatus ), juga diketahui dengan nama ‘O‘o‘a‘a, adalah burung penghisap madu Hawaii yang sudah punah dan endemik di pulau Kauai. Burung ini berada di hutan subtropis di pulau Kauai sampai awal abad ke-20, populasinya mulai berkurang. Suara burung ini terakhir kali terdengar pada tahun1987 dan dinyatakan punah. Akibat dari kepunahan burung ini adalah akibat dari datangnya tikus hitambabi dan nyamuk yang membawa penyakit terhadap burung. Burung ini juga punah sebagai akibat dari dirusaknya habitat burung ini.
Burung ini merupakan salah satu jenis burung pemakan madu berukuran kecil dari Hawaii, tetapi bukan spesies terkecil, dan memiliki panjang 20 cm. Burung ini berwarna hitam atau coklat sangat gelap yang mengkilau dengan kaki kecil berwarna kuning. Seperti pemakan madu lainnya, burung ini memiliki paruh yang tajam untuk memakan nektar. Sumber nektar kesukaan burung ini adalah spesies Lobelia dan pohon 'ohiʻa lehua. Burung ini juga makan invertebrata kecil dan buah. Burung ini adalah pembuat sarang berupa lubang di lembah berhutan tebal di pulau Kauai. Banyak binatang yang berhubungan dengan burung ini juga punah, seperti ‘Ō‘ō Hawai‘i‘Ō‘ō Moloka‘i, dan ‘Ō‘ō O‘ahu. Sedikit informasi yang diketahui tentang burung ini.

Sabtu, 14 Juli 2012

‘Ō‘ō Bishop ( Moho bishopi )

Ō‘ō Moloka‘i, kadang-kadang disebut ‘Ō‘ō Bishop ( Moho bishopi ) adalah burung penghisap madu yang sudah punah. Lionel Walter Rothschild menamainya dengan nama Charles Reed Bishop, pendiri Museum Bishop.
‘Ō‘ō Moloka‘i ditemukan pada tahun 1892 oleh Henry C. Palmer, kolektor burung untuk Lord Rothschild. Panjangnya sekitar 29 cm. Ekornya mencapai panjang 10 cm. Bulu burung ini berwarna hitam mengkilap dengan sayap kuning. Lagu mereka adalah dua kata sederhana, took-took, yang dapat terdengar sejauh 1 mil.


Burung ini endemik pada hutan di Molokai, dan gunung Olokai. Tulang fosil ditemukan di Maui, di gunung Olinda dengan ketinggian 4.500 diatas permukaan laut . Sedikit yang diketahui tentang ekologi burung ini. Burung ini makan dari nektar bunga famili Campanulaceae .


Alasan punahnya burung ini adalah karena hancurnya habitatnya, perburuan melalui mamalia yang diperkenalkan, perburuan karena bulu kuningnya untuk membuat topi, dan juga penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Burung ini terakhir kali terlihat tahun 1904 oleh George Campbell Munro. Pada tahun 1915, Munro mencoba untuk mengverifikasi laporan penglihatan burung ini, tetapi ia tidak pernah melihat burung ini lagi. Pada tahun 1981, beberapa orang menyatakan menemukan burung ini di Maui, tetapi hal ini tidak pernah dikonfirmasi.

Kamis, 12 Juli 2012

Anisbentet Sangihe ( Colluricincla sanghirensis )


Burung Anisbentet Sangihe Colluricincla sanghirensis ), adalah spesies burung dari keluarga Colluricinclidae., dalam Bahasa Inggris burung ini disebut dengan nama Sangihe Shrike-thrush
Brung ini diketahui merupakan endemik Sulawesi, atau hanya bisa ditemukan di habitat aslinya di Pulau Sulawesi, Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara. Dimana habitat populasinya burung ini sudah menurun dalam cakupan dan kualitas populasi semakin kecil dan terus berkurang jumlahnya . Karena situasi populasi yang mengkhawatirkan itu maka burung ini diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah.



Ciri-ciri burung ini adalah, ukurannya menengah sekitar 17cm, warna Coklat Olive pada bagian atas, coklat tua pada bagian bahu dan bawah punggung. Pada bagian bawahnya lagi coklat kepucatan, kekaratan pada perut. Kaki hitam. Coklat zaitun pada sekitar kuning tenggorokan. Suaranya keras, nadanya seperti lagu dengan banyak pengulangan dan lembut, bunyinya kedengaran seperti Chweep…chweep..chweep.Populasinya mungkin akan sangat rendah jumlahnya (mungkin kurang dari 100 burung) mengingat daerah kecil habitat yang tersisa,dan kebanyakan dijumpai di Gunung Sahendaruman dan Gunung Sahengbalira



Rabu, 11 Juli 2012

Cikarak Sulawesi ( Myza Celebensis )



Burung Cikarak Sulawesi ( Myza Celebensis ) termasuk dalam spesies keluarga burung Meliphagidae. Burung ini populasi habitatnya adalah endemik Sulawesi, alias hanya bisa ditemukan di Pulau Sulawesi. Kata Celebensis, diambil dari kata Celebes, yakni nama Pulau Celebes atau Pulau Sulawesi. Burung ini juga dengan nama Dark-Myza Celebensis atau Dark-Eared My
 

Sample text

Sample Text