Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Burung Mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Mitos. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Agustus 2012

Tengu ( 天狗 )


Tengu (天狗) adalah makhluk dalam legenda Jepang. Salah satu Kami penunggu gunung, atau yōkai yang erat hubungannya dengan burung elang atau gagak. Pakaiannya mirip dengan pakaian pendeta yamabushi yang menempa diri di hutan dan gunung. Tengu memiliki hidung yang panjang, wajahnya merah, memiliki sepasang sayap, serta kuku kaki dan tangan yang sangat panjang. Tengu bisa terbang bebas di angkasa sambil membawa tongkat yang disebut kongōzue, pedang besar (tachi), dan kipas berbentuk daun (hauchiwa). Pekerjaannya menghalangi orang yang ingin mendalami agama Buddha. Nama lainnya adalah Gehō-sama (外法様 tuan sihir?).

Dalam bahasa Jepang dikenal ungkapan Tengu ni naru yang berarti "sangat bangga dengan diri sendiri". Ungkapan ini kemungkinan berasal dari ungkapan "hana ga takai" (hidungnya tinggi).

Tengu berhidung panjang seperti dikenal orang zaman sekarang merupakan hasil penggambaran orang pada abad pertengahan. Dalam cerita Konjaku Monogatari-shū, tengu digambarkan bisa berlari di udara, dan sebagai hantu berbentuk burung rajawali yang membuat orang kerasukan. Penggambaran tersebut diperkirakan mengambil model dari hantu Temma dalam konsep agama Buddha yang digambarkan berbadan manusia dan memiliki sepasang sayap.

Model awal tengu kemungkinan berubah pada paruh pertama zaman Muromachi. Dalam kumpulan cerita rakyat Otogizōshi terdapat cerita Tengu no Dairi (Istana Tengu) yang tokoh utamanya bernama Kurama Tengu. Selain itu, Ushiwakamaru dikabarkan menerima pelajaran seni pedang dari Tengu di Kuil Kurama. Dalam Hikayat Heike, tengu digambarkan seperti "Manusia tapi tidak seperti manusia, burung tapi tidak seperti burung, anjing tapi tidak seperti anjing, tangan dan kakinya seperti tangan dan kaki manusia, wajahnya seperti anjing, memiliki sayap di kanan kiri, dan bisa terbang."

Jumat, 13 Juli 2012

Argentavis Argentina


Kurang lebih pada enam juta tahun silam, seekor burung raksasa dengan bentuk yang mengejutkan terbang di atas sebuah padang rumput yang tak bertepi dalam sekilas pandang di wilayah Argentina. Bentuknya menyerupai pesawat mini model masa kini, dengan bobot lebih dari 60 kg. Namun burung raksasa Argentavis Argentina yang sudah punah ini tidak memiliki otot yang cukup kuat untuk mendorong sepasang sayapnya agar bisa terbang di angkasa. Karena itu bagaimana sebenarnya burung ini mampu terbang di angkasa luas, dahulu hal ini merupakan misteri yang sulit dipecahkan.

Kasus ini telah membuat bingung ahli paleontologi selama beberapa dasarwarsa. Namun dalam laporan investigasi yang dipublikasikan beberapa waktu lalu peneliti asal AS menemukan bahwa, pada dasarnya burung raksasa prasejarah ini adalah seekor ahli peluncur dan hewan tersebut tahu bagaimana menggunakan arus udara panas untuk terbang. Dalam sebuah forum komunikasi akademi ilmu pengetahuan AS, profesor geologi dari museum Institut Sains dan Teknologi Texas, Chartez mengatakan, "begitu naik ke angkasa, maka terbang pun tidak lagi menjadi soal bagi burung raksasa Argentina ini."


Chartez memimpin sebuah tim ahli, dengan prinsip teori dinamika udara (aerodinamika) meneliti prinsip terbang burung prasejarah ini, sekaligus menganalisa parameter terbang burung raksasa Argentina ini dengan simulasi terbang. Hasil penelitian mereka menunjukkan, bahwa seperti kebanyakan burung darat berpostur besar lainnya. Di mana meski tidak kuat untuk terbang karena postur mereka yang terlalu besar, namun burung raksasa ini malah dapat meluncur dengan mudahnya, dengan kecepatan terbang saat kondisi memungkinkan mencapai 100 km lebih.


Seperti misalnya gypsfulvus (sejenis elang bangkai), burung raksasa Argentina memerlukan arus udara panas yang naik dari pegunungan andes saat terbang, uap yang naik di padang rumput. Dan seperti burung berpostur besar lainnya, burung raksasa Argentina terbang berputar menggunakan arus udara panas, dalam jarak penerbangan dari sarang sampai menangkap mangsa, burung raksasa ini terbang dan terbang lagi dengan menggunakan uap panas.


Chartez mengatakan: "masalah terbesar yang dihadapi oleh burung raksasa Argentina ini saat terbang adalah bagaimana caranya meninggalkan permukaan, sebab saat berdiri di permukaan tanah, sang burung raksasa sama sekali tidak dapat terbang. Sehingga dengan demikian, burung raksasa ini mungkin terbang dengan menggunakan sayap peluncur seperti pilot."

Sumber 
http://bacaanmu.blogspot.com/2011/03/burung-pra-sejarah-terbesar-sedunia.html#ixzz20ZFZbxQC
 

Sample text

Sample Text