Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Artikel Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Peternakan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Agustus 2012

MEWASPADAI TERNAK TERSERANG CACING USUS DAN LAMBUNG


BILA ternak-ternak milik kita,terutama sapi dan kerbau memperlihatkan gejala tubuh kurus dan pucat seperti kekurangan darah,meskipun selera makannya tetap tinggi,bulu-bulu berdiri dan sangat kasar khususnya pada ternak domba dan bahkan menderita mencret atau berak putih,maka peternak perlu mewaspadai gejala-gejala tersebut.

Sebab,gejala-gejala tersebut kemungkinan besar ternak-ternak milik kita terserang cacing usus dan lambung baik dari kelompok Ascaris sp,Cooperia sp,Strongyloides sp,Ostertagla sp,Tricshuris sp,Haemonchus sp,Mecistecir rus sp,Trychostronggylus sp maupun dari jenis Bonustonum sp. 

Pada ternak terutama sapi dan kerbau yang masih muda,bila sudah terserang cacing usus dan lambung,tidak hanya mengakibatkan seperti yang sudah digambarkan di atas.Tapi bisa lebih parah lagi dan bahkan bisa mengakibatkan kematian. Karena menimbulkan kerugian besar,maka ada baiknya bila para peternak sapi atau kerbau mengetahui penyebab serangan cacing usus dan lambung. Penyakit cacing tersebut disebabkan sebagai akibat digunakannya ternak itu untuk tenaga kerja secara berlebihan,tetapi kurang diberi makanan bergizi. Bahkan ternak sering mengalami stress akibat mendapat perlakuan kasar. 

POLA PENULARAN
Kondisi ternak yang lemah akibat-akibat di atas,maka akan memudahkan ternak tertular penyakit cacing usus dan lambung,baik melaluimakanan maupun minuman dan lainnya.Padahal hewan ternak yang tertular cacing tersebut akan cepat dan mudah menulari hewan ternak lainnya,apalagi yang kondisi tubuhnya lemah.

Pola penularan cacing usus dan cacing lambung itu dimulai dengan keluarnya telur cacing tersebut bersama tinja ternak yang terjadi penyakit cacing.Telur ini mau tak mau akan mencemari tanah,rumput dan air di sekitarnya.Jika berada pada suhu 26oCmaka telur itu akan berubah menjadi larva infentif. Sebenarnnya,baik ketika masih berupa telur atau setelah berubah menjadi larva infeksif akan mudah memasuki tubuh kembali melalui makanan maupun minuman (rumput dan air yang sudah tercemar),serta melalui cara lain.Sementara di dalam tubuh hewan—terutama dibagian usus dan lambung—telur menetas lagi,sehingga jumlah cacing di dua organ tubuh itu akan bertambah banyak dan akhirnya menjadi pathogen.

Karena itu,jika ternak yang dalam usus dan lambungnya terdapat banyak cacing tersebut,maka akan memperlihatkan gejala-gejala seperti yang disebut di bagian atas. PENGOBATAN 
Untuk mengobati ternak terserang cacing usus dan cacing lambung,bila belum terlalu parah,dapat segera diobati secara tradisional dengan mengguna kan biji pinang yang ditumbuk halus kemudian dilarutkan dalam air.Larutan air dan biji pinang ini kemudian diminumkan pada ternak yang menderita cacingan.Kecuali kalau memang sudah agak parah dapat diobati dengan menggunakan obat seperti Ripercol, Nemafax,Piperazim,Perbendazole dan Thiabenazole. 
Namun daripada mengobati ternak sakit,sebaiknya peternak mau melakukan upaya penanggulangan atau pencegahan tehadap serangan (penu laran) cacing usus dan cacing lambung tersebut sejak dini.Sebab,upaya preventif dinilai relative mudah dan murah dibandingkan dengan melakukan pengobatan.Alasannya,karena harga obat hewan terutama untuk sembuhkan penyakit cacing usus dan lambung,tergolong mahal dan agak sulit diperoleh. 
Adapun upaya penanggulangan atau pencegahan yang dapat dilakukan antara lain; memelihara kebersihan kandang dan lingkungan sekitarnya termasuk tempat makan-minum,tempat tidur dan tempat menyimpan pakan. Juga sebaiknya disediakan tempat khusus untuk membuang kotorannya,tidak mengembalakannya di sembarang tempat terutama di tempat becek,memper lakukan ternak dengan baik (tidak kasar) dan segera mengisolasi ternak yang diketahui sudah tertular cacingan tersebut.
Bahkan yang lebih baik lagi,para peternak mau bersatu padu membangun kandang ternak secara kelompok,dan jauh dari pemukiman manusia.Dengan demikian,bukan hanya hewan ternak yang berusaha dijauhkan dari penyakit terutama cacing usus dan lambung,tapijuga manusia di sekitarnya.Karena menurut penelitian para ahli,bahwa penyakit cacing usus dan lambung pada ternak,ternyata juga bisa menular kepada manusia.

Selasa, 10 Juli 2012


Ayam kampung merupakan komoditas perdagangan yang banyak dicari orang, namun sebagian besar usaha peternakan ayam kampung dilakukan dengan cara tradisional. Meski demikian permintaan bibit ayam kampung terus saja ada dan itu dipenuhi dari sistem penetasan telur ayam secara alami atau dierami oleh induknya. Untuk produksi massal penetasan telur semacam ini tidak ekonomis. Di lain sisi permintaan terus meningkat. Sebagai bisnis, penetasan telur ayam dengan menggunakan mesin tetas telur menjadi pilihan.


Dari segi ekonomis menetaskan telur ayam menggunakan mesin penetas telur lebih memungkinkan dikembangkan sebagai sebuah usaha. Penetasan telur ayam sebenarnya lebih mudah dibandingkan dengan penetasan telur itik. Ada beberapa hal yang membuatpenetasan telur ayam lebih mudah daripada penetasan telur itik antara lain pada penetasan telur itik diperlukan kelembaban udara yang lebih tinggi sedangkan pada penetasan telur ayam lebih rendah, sehingga dalam menetaskan telur ayam tidak perlu disemprot dengan air.



Dari segi waktu , telur ayam akan menetas setelah dierami selama 21 hari sedangkan telur itik 28 hari. Dengan demikian dari segi biaya operasional akan lebih murah usaha penetasan telur ayam ini. Sama dengan usaha penetasan telur itik, usaha penetasan telur ayam dapat dilakukan sebagai usaha sampingan rumah tangga, sebagai usaha profit oriented skala Usaha Kecil dan Menengah maupun usaha besar. Akan tetapi kesemuanya itu harus dilakukan dengan baik dengan pendekatan Majanemen Penetasan telur berbasis kualitas dan mutu yang baik.

Sebelum memulai usaha penetasan telur ayam ini perlu dipertimbangkan terlebih dahulu jenis telur ayam apa yang akan ditetaskan. Ada beberapa kebutuhan pasar ayam antara lain ayam petelur, ayam pedaging,ayam kampung, ayam hias (cemani, ayam mutiara, ayam kate dan lain-lain).

Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan, tetapi dari segi manajemen penetasan dan operasionalnya hampir sama. Misalnya saja ayam pedaging dan ayam petelur, biasanya kelompok ayam ini dipelihara dalam jumlah yang besar oleh satu peternak, jumlahnya mencapai ribuan sehingga kebutuhan akan DOC (Day Old Chicken) juga besar. Daging dan telur kelompok ayam ini cukup banyak diminta oleh pasar. Akan tetapi biasanya peternak sudah mendapat suplai bibit dari industri DOC besar, sehingga bagi Usaha Kecil di bidang ini harus mampu bersaing dengan industri penetasan telur yang besar.

Proses Penetasan Telur Ayam

Ayam kampung nampaknya lebih memiliki peluang usaha bagi kelompok usaha kecil, permintaan daging ayam kampung dan telurnya juga cukup besar, tetapi pemain besar belum begitu banyak terjun dalam bidang ini. Ayam hias sebenarnya juga memiliki potensi cukup lumayan untuk ditekuni, meski pasar ayam hias tidak seluas untuk kebutuhan konsumsi. Harga anakan maupun ayam hias yang sudah dewasa relatif lebih mahal dibandingkan dengan ayam konsumsi. Dengan Biaya Operasional penetasan yang hampir sama tetapi harganya lebih mahal, hal ini merupakan peluang untuk ditekuni.
Persiapan Penetasan Telur Ayam

Sebelum anda memulai bisnis penetasan telur ayam kampung, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Persiapan dalam usaha penatasan telur ayam meliputi beberapa hal antara lain :
1. Persiapan Tempat Untuk Penetasan Telur, Tempat untuk penetasan telur ayam diupayakan cukup luas dengan tidak terkena panas matahari secara langsung dan tidak terkena angin yang dapat menyebabkan perubahan suhu secara mencolok. Selain itu diupayakan lingkungan tempat penetasan memiliki sanitasi yang bagus dan tidak mengandung bibit-bibit penyakit. Sanitasi yang buruk akan mempengaruhi prosentase penetasan telur.

2. Persiapan Mesin Penetas, Pilihlah mesin penetas telur yang baik dan sesuai dengan kebutuhan. Mesin tetas yang baik adalah yang memiliki prosentase penetasan yang tinggi, walaupun prosentase penetasan yang tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh mesin penetas saja, tetapi juga dipengaruhi oleh bibit yang baik, pemeliharaan selama pengeraman dan lain-lain. Banyak produk mesin penetas telur dijual di pasaran.

Mesin penetas telur juga harus disesuaikan dengan kebutuhan, jika kebutuhan penetasan telur hanya 100 butir per periode, tidak efektif kalau kita gunakan mesin penetas berkapasitas 500 butir. Karena akan boros biaya untuk listrik dan operasional lainnya.

Jika anda membeli mesin penetas telur, periksa dengan seksama kelengkapan mesin tetas dan pastikan dapat beroperasi dengan baik dengan suhu dan kelembaban yang tepat sebelum telur dimasukkan. Suhu ideal ruang mesin tetas pada kisaran 37-38 derajat Celcius, meski telur dapat menetas pada suhu antara 36 sampai dengan 40 derajat celsius.

3. Persiapan Telur dan indukan, Jika anda menyediakan indukan ayam sendiri untuk ditetaskan telurnya, carilah indukan yang memiliki umur yang cukup, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, selain itu diupayakan telur tidak disimpan terlalu lama. Semakin lama telur disimpan sebelum dieramkan akan menurun daya tetasnya. Diupayakan telur tidak disimpan lebih dari satu minggu sebelum ditetaskan. Jika anda membeli telur ayam untuk ditetaskan, belilah dari peternak langsung yang sudah diketahui asal-usul dan jenis indukannya. Membeli telur ayam di pasar untuk ditetaskan sangat beresiko, karena kita tidak pernah tahu asal-usulnya dan berapa lama telah disimpan.
Proses Penetasan Telur Ayam

Setelah segala persiapan dalam menetaskan telur selesai, langkah selanjutnya adalah proses Menetaskan telur dengan mesin penetas. Proses penetasan telur ayam tidak jauh berdeda dengan penetasan telur itik, atau telur ungas yang lain. Pada penetasan telur ayam tidak perlu melakukan penyemprotan dengan air hangat untuk menambah kelembaban ruang mesin tetas seperti penetasan telur itik.

Sebelum mensin penetas telur digunakan, pastikan beroperasi dengan baik, yang meliputi pemeriksaan suhu ruangan yang stabil, kelembaban,dan lain sebagainya. Setelah mesin tetas siap beroperasi baru telur-telur dimasukkan.

1. Pemasukan Telur Pada Mesin Tetas
Pemasukan Telur ke dalam mesin tetas setelah dipastikan mesin tetas benar-benar siap untuk dipergunakan, parameter kesiapan mesin tetas adalah suhu sudah sesuai dengan standard, kelembapan udara cukup ideal, tidak ada lubang yang akan mengurangi performa mesin tetas Sebelumnya mesin tetas telah disemprot dengan disinfectant terlebih dahulu. Bersihkan telur-telur ayam dari berbagai macam kotoran dan bakteri.

Telur yang bersih menghindarkan embrio mati karena bakteri dan mudah untuk diamati perkembangannya. Pengamatan embrio dapat dilakukan dengan teropong lampu pijar, pada usia 4 hari embrio yang berkembang akan nampak seperti akar-akar pohon berwarna merah, sedang embrio yang tidak berkembang atau telur tidak mengandung bibit ayam akan tampak bening. Selama 3 hari pertama telur didiamkan dalam mesin tetas dan tidak usah dibuka-buka dan tidak dilakukan pembalikan telur. Cukup diamati suhu di dalam ruangan, jika suhu sudah konstan di nilai ideal biarkan saja, jika tidak perlu disesuaikan. Masa 3 hari ini merupakan masa yang cukup kritikal dalam penetasan telur, karena embrio masih sangat lemah jangan sampai terguncang terlalu keras agar tidak mematikan.

2. Pengeraman Telur
Setelah melewati masa 3 hari penetasan telur, sudah bisa dilihat telur-telur yang memiliki benih atau tidak. Telur yang tidak memiliki benih ayam perlu disortir karena tidak akan menetas, telur ini masih bisa untuk dikonsumsi dan masih bisa dijual atau dijadikan makanan. Telur ayam yang tidak ada embrio ini kemungkinan karena tidak dibuahi oleh ayam pejantan.

Pada masa penetasan telur hari keempat sampai hari ke 18 , telur ayam sudah harus kita bolak-balik sehari 2 sampai 4 kali, bahkan 6 kali, frekuensi pemutaran telur akan berpengaruh pada daya tetas telur. Semakin sering akan semakin baik. Pada hari keempat tersebut telur perlu diangin-anginkan dengan cara membuka tutup mesin penetas selama kurang lebih 10 sampai dengan 15 menit.

Dalam menetaskan telur ayam ,proses mengangin-anginkan telur ini perlu dilakukan seriap 3 sampai 4 hari sekali sampai hari ke 18. Dalam masa pengeraman ini yang perlu diperhatikan selain suhu dijaga supaya tetap konstan adalah kelembaban udara. Jika kelembapan dirasa kurang bisa ditambahkan dengan menyemprotkan air hangat ke telur-telur. Pada Penetasan telur ayam hal ini jarang perlu dilakukan.

Perkembangan Embrio Ayam Pada Penetasan Telur

3. Masa Menetas
Pada usaha penetasan telur ini, masa menetas merupakan saat yang ditunggu-tunggu. Pada hari ke 18 telur sudah tidak perlu lagi dibolak-balik karena embrio sudah berkembang cukup sempurna dan menungu saat menetas. Diamkan saja dalam mesin tetas, mesin tetas ditutup dan cukup dikontrol parameter suhu ruangan dan kelembabannya. Setelah hari ke 21 telur ayam sudah menetas, bahkan di hari ke 20 kemungkinan sudah ada yang menetas. Segera pindahkan anakan ayam yang menetas ke ruangan lain agar tidak mengganggu telur yang belum menetas.

Dalam masa menetas ini yang perlu diperhatikan adalah pemidahan anak ayam, pindahkan pada ruangan yang memiliki suhu hampir sama dengan suhu di dalam ruang penetas, seiring dengan bertabahnya usia, suhu perlahan-lahan diturunkan. Anak ayam yang baru menetas masih menggunakan energi dari makanan cadangan dari telur, sedikit demi sedikit dilatih makan dengan menaburkan makanan di bulu-bulunya. Setelah cukup kuat anakan ayam siap dijual atau dipelihara. Selamat mencoba usaha penetasan telur ayam.

Usaha Ternak Itik Mojosari

Hal yang cukup terkenal dari Daerah Mojokerto Jawa Timur adalah ras itik unggulan yaitu itik Mojosari. Itik jenis ini dikenal memiliki produksi telur yang lebih tinggi dibandingkan itik Tegal. Karena itulah peluang usaha ternak Itik Mojosari berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha ternak itik komersial, baik pada lingkungan tradisional maupun intensif. Satu hal yang menjadi masalah usaha ternak itik adalah rendahnya produktivitas karena kurangnya ketersediaan bibit itik yang baik kualitas genetiknya. Itik yang ada saat ini beragam kualitas maupun asalnya.

Untuk mendukung usaha ternak itik yang sukses diperlukan dukungan penyediaan itik unggul yang memiliki produktivitas tinggi, menghasilkan telur yang rasanya enak dan digemari konsumen. Salah satunya adalah masalah bibit unggul itik Mojosari ini. Dengan berbagai kelebihanya itik Mojosari menjadi pilihan dalam menjalankan usaha ternak itik.
Karakter Itik Mojosari

Dalam mendukung sukses usaha ternak itik Mojosari ini diperlukan pemahaman tentang karakteristik itik Mojosari. Itik Mojosari akan mulai bertelur pertama kali pada umur 25 minggu, dengan masa produksi lebih lama, bisa sampai 3 periode masa produktif. Setelah umur 7 bulan produksinya mulai stabil dan banyak. Dengan perawatan yang baik produksi perhari dapat mencapai rata-rata 70-80% dari seluruh populasi.

Itik Mojosari mampu berproduksi sekitar 203 butir per tahun, lebih tinggi dari itik lokal yang berproduksi sekitar 188 butir per tahun.Hasil tersebut diperoleh dengan pemberian pakan sebanyak 150 gram/ekor/hari. Pakan yang diberikan memiliki kandungan protein 21% dan energi untuk bertelur sebesar 2.970 kilo kalori per kg.

Untuk menjaga kualitas produksi itik mojosari perlu dilakukan upaya seleksi yang ketat terhadap proses penyediaan bibit itik mojosari (DOD). Pelaku bisnis penetasan telur itik mojosari perlu memperhatikan beberapa standard kualitas yang baik agar produktifitas itik mojosari tetap bagus.

Standard bibit induk (parent stock) itik mojosari merupakan aspek yang cukup penting di dalam menunjang produksi itik Mojosari.Untuk menghasilkan itik niaga yang sesuai dengan standard yang telah ditetapkan maka dibutuhkan bibit induk itik mojosari yang telah memenuhi persyaratan teknis minimal. Standard teknis kualitas bibit induk itik mojosari telah ditentukan oleh Badan standardisasi Indonesia.

Memilih Bibit Itik Mojosari

Hal penting dalam usaha ternak itik Mojosari adalah pemilihan bibit yang baik dan berkualitas tinggi, sehingga produktifitas telur tinggi. Untuk mendapatkan bibit itik yang baik ada beberapa syarat bibit itik mojosari yang perlu diperhatikan. Berikut syarat-syarat bibit induk Itik Mojosari yang baik :

1.Bibit induk muda merupakan Itik jantan dan betina dewasa kelamin usia 4 sampau 5 bulan.
2.Bobot Minimal 1400 gram.
3.Bibit induk muda harus berasal dari induk yang mempunyai kriteria:
Rataan produksi telur 60% selama masa produksi.
Daya tetas minimal 60% dari telur fertil.
Bobot Telur tetas minimal 58 gram.
Kerabang berwarna hijau kebiruan

Setelah bibit itik mojosari dipilih berdasarkan syarat-syarat tersebut, yang penting dipertimbangkan adalah masalah pemeliharaan dan perkandangan itik. Selamat mencoba.

Sumber:
1.http://www.pustaka-deptan.go.id/
2. http://www.bsn.or.id/

Rabu, 06 Juni 2012

CARA BETERNAK AYAM BURAS


1. PENDAHULUAN
CARA BETERNAK AYAM BURAS
Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam kampung di Indonesia berkembang pesat dan telah banyak dipelihara oleh peternak-peternak maupun masyarakat umum sebagai usaha untuk pemanfaatan pekarangan, pemenuhan gizi keluarga serta meningkatkan pendapatan.

Dikarenakan dengan pemeliharaan sistem tradisional, produksi telur ayam buras sangat rendah, ± 60 butir/tahun/ekor. Berat badan pejantan tak lebih dari 1,9 kg dan betina ± 1,2 ~ 1,5 kg, maka perlu diintensifkan. Pemeliharaan yang intensif pada ayam buras, dapat meningkatkan produksi telur dan daging, dapat mencegah wabah penyakit dan memudahkan tata laksana.

Sistem pemeliharaan ayam buras meliputi : bibit, pemeliharaan, perkandangan, pakan dan pencegahan penyakit.

2. BIBIT

CARA BETERNAK AYAM BURAS 
Ciri-ciri bibit yang baik :

1. Ayam jantan
* Badan kuat dan panjang.
* Tulang supit rapat.
* Sayap kuat dan bulu-bulunya teratur rapih.
* Paruh bersih.
* Mata jernih.
* Kaki dan kuku bersih, sisik-sisik teratur.
* Terdapat taji.
2. Ayam betina (petelur) yang baik
* Kepala halus.
* Matanya terang/jernih.
* Mukanya sedang (tidak terlalu lebar).
* Paruh pendek dan kuat.
* Jengger dan pial halus.
* Badannya cukup besar dan perutnya luas.
* Jarak antara tulang dada dan tulang belakang ± 4 jari.
* Jarak antara tulang pubis ± 3 jari.

3. PEMELIHARAAN
CARA BETERNAK AYAM BURAS 
Ada 3 (tiga) sistem pemeliharaan :

1. Ekstensif (pemeliharaan secara tradisional = ayam dilepas dan mencari pakan sendiri).
2. Semi intensif (ayam kadang-kadang diberi pakan tambahan).
3. Intensif (ayam dikandangkan dan diberi pakan).

Apabila dibedakan dari umurnya, ada beberapa macam pemeliharaan, yaitu :

1. Pemeliharaan anak ayam (starter) : 0 - 6 minggu, dimana anak ayam sepenuhnya diserahkan kepada induk atau induk buatan.
2. Pemeliharaan ayam dara (grower) : 6 - 20 minggu.
3. Pemeliharaan masa bertelur (layer) : 21 minggu sampai afkir (.... 2 tahun).

Untuk memperoleh telur tetas yang baik, diperlukan 1 (satu) ekor pejantan melayani 9 (sembilan) ekor betina, sedangkan untuk menghasilkan telur konsumsi, pejantan tidak diperlukan.

4. PERKANDANGAN
CARA BETERNAK AYAM BURAS 
Fungsi kandang yaitu :

1. Untuk tempat berteduh dari panas dan hujan.
2. Sebagai tempat bermalam.
3. Untuk memudahkan tata laksana.

Syarat kandang yang baik, yaitu :

1. Cukup mendapat sinar matahari.
2. Cukup mendapat angin atau udara segar.
3. Jauh dari kediaman rumah sendiri.
4. Bersih.
5. Sesuai kebutuhan (umur dan keadannya).
6. Kepadatan yang sesuai.
7. Kandang dibuat dari bahan yang murah, mudah didapat dan tahan lama.

Kepadatan kandang :

1. Anak ayam beserta induk : 1 - 2 m 2 untuk 20 - 25 ekor anak ayam dan 1 - 2 induk.
2. Ayam dara 1 m 2 untuk 14 - 16 ekor.
3. Ayam masa bertelur, 1 - 2 m 2 untuk 6 ekor dan pejantan 1 ekor.

5. PAKAN
CARA BETERNAK AYAM BURAS 
Zat-zat makanan yang dibutuhkan terdiri dari : protein, energi, vitamin, mineral dan air. Adapun konsumsi pakan adalah sebagai berikut :

* Anak ayam dara 15 gram/hari
* Minggu I-III 30 gram/hari
* Minggu III-V 60 gram/hari
* Minggu VI sampai menjelang bertelur 80 gram/hari
* Induk 100 gram/hari

Pemberian pakan adalah sehari dua kali, yaitu pagi dan sore, sedangkan air minum diberikan setiap saat.

6. PENYAKIT DAN PENCEGAHAN
CARA BETERNAK AYAM BURAS 
1. ND = Necastle Desease = Tetelo
Pencegahan: lakukan vaksinasi ND secara teratur pada umur 4 hari, 4 minggu dan 4 bulan diulangi lagi setiap 4 bulan sekali.
2. Cacingan
Pencegahan : hindarkan pemeliharaan tradisional.
3. CRD (pernafasan)
Pengobatan : Chlortetacyclin (dosis 100-200 gr/ton ransum) atau tylosin (dosis 800 -1000 gr/ton ransum).
4. Berak Darah
Pengobatan : Prepara Sulfa atau anyrolium dilarutkan dalam air minum, dosis 0,012 -0,024% untuk 3 - 5 hari.
5. Pilek
Pengobatan : sulfadimetoxine 0,05% dilarutkan dalam air minum selama 5 -7 hari.
6. Cacar
Pencegahannya : vaksinasi 1 kali setelah lepas induk.

7. ANALISA USAHA AYAM BURAS
CARA BETERNAK AYAM BURAS 
1. Pengeluaran
1. Bibit: 100 ekr x Rp. 12.000,- -----------------------------> Rp. 1.200.000,-
2. Pakan100 ekr x 360 hr x 100 gr x Rp. 491,- / 1000 ------> Rp. 1.767.600,-
3. Penyusutan kandang/th Rp. 500.000: Rp. 50.000/2 th -----> Rp. 225.000,-
4. Tenaga kerja: 12 x Rp. 150.000,- /bulan ------------------> Rp. 1.800.000,-
5. Vaksin dan Obat: 100 ekr x 4 kali x Rp. 50,- -------------> Rp. 20.000,-
Total ------------------------------------------------------> Rp. 5.012.600,-
2. Pendapatan
1. Penjualan telur/th 95%x100 ek x 25% x 360 hr x Rp. 300,- -----> Rp 2.565.000,-
2. Penjualan kotoran ayam/th 25 grx95 ekrx360 x Rp. 2.000,- -----> Rp. 34.200,-
3. Penjualan ayam afkir: 95 ekr x Rp. 13.500,- ---------------------> Rp. 1.282.500,-
Total ------------------------------------------------------------> Rp. 3.881.700,-
3. Penghasilan/tahun: pendapatan - pengeluaran - Rp. 1.130.900,-
Karena keuntungannya negatif, maka sebaiknya untuk pemeliharaan 100 ekor ayam, tenaga kerja cukup ditangani oleh peternak, sehingga biaya untuk tenaga kerja Rp. 0,-. Dengan kata lain, untuk pemeliharaan 100 ekor ayam :
1. Pengeluaran Rp. 3.212.600,-
2. Pendapatan Rp. 3.881.700,-
3. Keuntungan Rp. 669.100,-
keuntungan/bln Rp. 55.758,-

Asumsi harga pasaran bulan Februari 1996

1. Harga bibit siap telur/ekor Rp.

12.000,-
2. Harga telur/butir Rp. 300,-
3. Harga pakan, dengan susunan:
* 30 kg pakan Rp. 300,- /kg
* 50 kg pakan layer (441) Rp. 605,- /kg
* 1 kg mineral Rp. 500,- /kg
4. Harga ayam apkir Rp. 13.500,-
5. Harga kotoran ayam 1 karung (50 kg) Rp. 2.000,-
6. Mortalitas (kematian) 5%
7. Produktivitas telur 25%
8. Biaya kandang ayam perekor Rp . 5.000,-
9. Biaya vaksin & obat perekor Rp. 50,-

8. SUMBER
CARA BETERNAK AYAM BURAS 
Brosur Intensifikasi Ternak Ayam Buras, Dinas Peternakan, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta (tahun 1996).

9. KONTAK HUBUNGAN
CARA BETERNAK AYAM BURAS 
Dinas Peternakan, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jl. Gunung Sahari Raya No. 11 Jakarta Pusat, Tel. (021) 626 7276, 639 3771 atau 600 7252 Pes. 202.

PEMILIHAN BIBIT AYAM BURAS

1. KELUARAN
Teknik pembibitan bibit ayam buras yang baik
2. PEDOMAN TEKNIS
1. Calon induk betina:
* sehat dan tidak cacat
* lincah dan gesit
* mata bening dan bulat
* rongga perut elastis
* tidak mempunyai sifat kanibal
* bebas dari penyakit
* umur 5 - 12 bulan.
2. Calon pejantan:
* sehat dan tidak cacat
* penampilan tegap
* bulu halus dan mengkilap
* tidak mempunyai sifat kanibal
* umur 8 - 24 bulan.
Jumlah induk dan pejantan disesuaikan dengan kondisi dan umurnya antara 8 - 10 : 1
3. SUMBER
Hompage Departemen Pertanian, http://www.deptan.go.id, Maret 2001
4. KONTAK HUBUNGAN
Departemen Pertanian RI, Jalan Harsono RM No. 3, Ragunan - Pasar Minggu, Jakarta 12550 - Indonesia

PENETASAN ALAMI AYAM BURAS

1. KELUARAN
Sangkar tetas dengan hasil daya tetas tinggi.
2. BAHAN
Bambu, kawat, paku, rumput kering.
3. ALAT
Gergaji, pisau serut, palu, tang, dll.
4. PEDOMAN TEKNIS
1. Sangkar penetasan dibuat dari bambu berbentuk kerucut dengan suhu penetasan dalam sangkar pengeraman cukup baik.
2. Cara pembuatan
1. Potong bambu berdiameter 25 - 50 cm sepanjang 125 cm, 1/3 bagian harus berada di atas ruas sedangkan yang 2/3 bagiannya sebagai tiang
penyangga.
2. satu pertiga dari bambu bagian atas dibelah-belah kecil ( 1-1,5 cm), dihaluskan, kemudian dianyam dengan belahan bambu tipis, dimulai dari
bagian ujung bawah belahan bambu, sehingga berbentuk kerucut.
3. Bagian ujung paling atas diikat dengan kawat tali, agar ayaman tidak lepas.
4. Sangkar diletakkan di tempat yang aman dan jauh dari keramaian dan terhindar dari gangguan hewan liar.
5. Bagian bawah sangkar dialasi dengan rumput kering, yang merupakan alas/tempat diletakkannya telur dan sekaligus sebagai tempat penetasan.
3. Sangkar penetasan kerucut ini menghasilkan daya tetas telur 77,37 %, kematian embriyo 16,64 %, suhu maksimum 102,3°C dan suhu minimum 83,5°C.
5. SUMBER
Departemen Pertanian, http://www.deptan.go.id, Maret 2001

Senin, 04 Juni 2012

TIPS BETERNAK BURUNG PUYUH

1. SEJARAH SINGKAT


Puuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuhrelatifkecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut jugaGemak (Bhs.Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut "Quail", merupakan bangsaburung(liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870.Dan terusdikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulaidikenal,dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan dikandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.


2. SENTRA PERIKANAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat,
Jawa Timur dan Jawa Tengah


3. JENIS
Kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica


4. MANFAAT
1) Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
2) Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
3) Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat
digunakan sebagai pupuk tanaman


5. PERSYARATAN LOKASI

1) Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
2) Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-
jalur pemasaran
3) Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
4) Bukan merupakan daerah sering banjir
4) Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.


6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1) Perkandangan

Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur
kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban
kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25-
40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca
mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar
matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.

Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu
sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang
untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor
untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2
sampai masa bertelur.

Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh
adalah:
a. Kandang untuk induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan
mneghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang
akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara.
Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.

b. Kandang untuk induk petelur
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini
mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama.
Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.

c. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter,
yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu.
Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih
memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang
sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas.
Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang
100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor
anak puyuh).

d. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6
minggu)
Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk
petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.

2) Peralatan

Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat
bertelur dan tempat obat-obatan.

6.2. Penyiapan Bibit

Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah
memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan,
pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan.

Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3
(tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:

a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang
sehat atau bebas dari kerier penyakit.
b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur
afkiran.
c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang
baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi
puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.


6.3. Pemeliharaan

1) Sanitasi dan Tindakan Preventif

Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan
lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini
mungkin.

2) Pengontrolan Penyakit

Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda
yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan
sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau
petunjuk dari Poultry Shoup.

3) Pemberian Pakan

Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa
bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang
suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-
matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali
sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum
hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak
puyuh pada bibitan terus-menerus.

4) Pemberian Vaksinasi dan Obat

Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk
ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air
minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat
gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat
ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda
beternak puyuh.

7. HAMA DAN PENYAKIT
1) Radang

usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus,
sehingga timbul pearadangan pada usus. Gejala: puyuh tampak lesu, mata
tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan
burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.


2) Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu,
mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang
spesifik adanya gejala "tortikolis"yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu
dan lumpuh. Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan
peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang
mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu
masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta
melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.

3) Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu
mengerut dan sayap lemah menggantung. Pengendalian: sama dengan
pengendalian penyakit tetelo.

4) Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi,
bulu kusam menggigil kedinginan. Pengendalian: (1) menjaga kebersihan
lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule
diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air
minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox

5) Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis
kelamin. Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu,
seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan
mengeluarkan darah. Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi
kandang atau puyuh yang terinfksi.

6) Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan
bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta
kadangkala kepala dan leher agak terpuntir. Pengendalian: pemberian
pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.

7) Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus. Gejala: Puyuh mengalami
gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju,
mengantuk, nafsu makan berkurang. Pengendalian: memperbaiki sanitasi
kandang dan lingkungan sekitarnya.

8) Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk. Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan
lemah. Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan
yang terjaga kebersihannya.


8. PANEN
8.1. Hasil Utama

Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah
produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.

8.2. Hasil Tambahan

Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran,
tinja dan bulu puyuh.


9. PASCAPANEN...


10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

10.1.Analisis Usaha Budidaya

1) Investasi
a. kandang ukuran 9 x 0,6 x 1,9 m
(1 jalur + tempat makan dan minum) Rp. 2.320.000,-
b. kandang besar Rp. 1.450.000,-

2) Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)
a. ay Old Quail (DOQ) x Rp 798 (Harga DOQ) Rp. 1.596.000,-
b. Obat (Vitamin + Vaksin) Rp. 145.000,-
c. Pakan (selama 60 hari) Rp. 2.981.200,-
Jumlah biaya produksi Rp. 4.722.200,-
Keadaan puyuh:
- Jumlah anak 2000 ekor (jantan dan betina)
- Resiko mati 5%, sisa 1900
- Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina (285 jantan, 1615 betina)
- Setelah 2 bulan harga puyuh bibit Rp 3.625,- betina dan Rp 725 jantan
- Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan Rp. 4.408.000,-
Minus Rp. -314.200,-

3) Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)
- 200 DOQ x Rp 798,- Rp. 159.600,-
- Obat (vitamin dan Vaksinasi) Rp. 290.000,-
- Pakan (sampai dengan umur 3 minggu) Rp. 2.459.925,-
Pakan (s/d minggu ke 4) betina

1615 ekor dan 71 ekor jantan (25% jantan layak bibit) Rp. 5.264.051,-
Jumlah biaya produksi Rp. 8.173.576,-
Keadaan puyuh:
- Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%, jumlah telur
1373 butir
- Hasil telur 75 hari x 1373 x Rp 75,- Rp. 7.723.125,-
- Puyuh betina bibit 1615 ekor @ Rp 3.625,- Rp. 5.854.375,-
- Puyuh jantan bibit 75 ekor @ Rp 798,- Rp. 59.850,-
- Puyuh jantan afkiran 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-

4) Keuntungan dari hasil penjualan Rp. 5.618.924,-

5) Biaya pemeliharaan (sampai umur 8 bulan)
a. Biaya untuk umur 4-8 bulan Rp. 1.625.137,-

6) Pendapatan
a. Hasil telur (0,5 bulan) 195 x 1373 x Rp 75,- Rp. 20.080.125,-
b. Hasil puyuh afkir 1615 ekor @ Rp 798,- Rp. 1.288.770,-
c. Hasil jantan afkir 71 ekor @ Rp 725,- Rp. 51.475,-
d. Hasil jantan afkir (2 bln) 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-

7) Keuntungan beternak puyuh petelur dan afkiran jual Rp. 10.950.113,-

Jadi peternak lebih banyak menjumlah keuntungan bila beternak puyuh petelur,
baru kemudian puyuh afkirannya di jual daripada menjual puyuh bibit. Analisa
usaha dihitung berdasarkan harga-harga yang berlaku pada tahun 1999.

10.2.Gambaran Peluang Agribisnis...


11. DAFTAR PUSTAKA

1) Beternak burung puyuh, 1981. Nugroho, Drh. Mayen 1 bk. Dosen umum
Ternak Unggas Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas
Udayana.
2) Puyuh, Tatalaksana Budidaya secara komersil, 1992. Elly Listyowati, Ir.
Kinanti Rospitasari, Penebar Swadaya, Jakarta.
3) Memelihara burung puyuh, 1985. Muhammad Rasyaf, Ir. Penerbit Kanisius
(Anggota KAPPI), Yogyakarta.
4) Beternak burung puyuh dan Pemeliharaan secara komersil, tahun 1985.
Wahyuning Dyah Evitadewi dkk. Penerbit Aneka Ilmu Semarang
 

Sample text

Sample Text