Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Burung Punah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Punah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

O‘ahu ‘Ō‘ō ( Moho apicalis )

O‘ahu ‘Ō‘ō ( Moho apicalis ) adalah anggota burung penghisap madu Hawaii yang telah punah yang masuk kedalam genus ‘Ō‘ō (Moho). O‘ahu ‘Ō‘ō jantan mencapai panjang 30.5 sentimeter. Panjang sayap O‘ahu ‘Ō‘ō 10.5 sampai 11.4 sentimeter. O‘ahu ‘Ō‘ō wanita lebih kecil. Habitat O‘ahu ‘Ō‘ō terletak di hutan pegunungan di O‘ahu. Ketika John Gould pertama kali mendeskripsikan O‘ahu ‘Ō‘ō tahun 1860, burung ini sudah punah selama 23 tahun


Bukti terakhir adalah koleksi tiga burung oleh penyelidik alam Ferdinand Deppe tahun 1837. Ia menemukan spesimen tersebut di bukit di belakang kota Honolulu. Setelah survey yang dipimpin oleh Robert C. L. Perkins gagal antara tahun 1880 dan 1890, burung ini dideskripsikan hampir punah. Kini terdapat tujuh spesimen di BerlinLondonNew York dan Cambridge (Massachusetts). Akibat kepunahannya adalah karena datangnya nyamuk, penghancuran habitat oleh ternak dan kambing, diserang tikus dan perburuan.

Senin, 16 Juli 2012

ʻŌʻō Hawaiʻi ( Moho nobilis )


ʻŌʻō Hawaiʻi ( Moho nobilis ) adalah spesies burung penghisap madu Hawaii yang telah punah. ʻŌʻō Hawaiʻi berasal dari genus Moho. ʻŌʻō Hawaiʻi pertama kali dideskripsikan oleh Blasius Merrem pada tahun 1786. ʻŌʻō Hawaiʻi mencapai besar 32 cm. Panjang sayap ʻŌʻō Hawaiʻi sepanjang 110 sampai 115 mm. Ekor ʻŌʻō Hawaiʻi mencapai panjang di atas 19 cm. Bulu burung ʻŌʻō Hawaiʻi berwarna hitam mengkilap dengan coklat pada perut. ʻŌʻō Hawaiʻi diburu oleh suku asli Hawaii. Bulunya digunakan untuk jubah dan mantel. Burung ini terakhir kali terdengar pada tahun 1934 di lereng Mauna Loa.

Minggu, 15 Juli 2012

‘Ō‘ō Kaua‘i ( Moho braccatus )


‘Ō‘ō Kaua‘i ( Moho braccatus ), juga diketahui dengan nama ‘O‘o‘a‘a, adalah burung penghisap madu Hawaii yang sudah punah dan endemik di pulau Kauai. Burung ini berada di hutan subtropis di pulau Kauai sampai awal abad ke-20, populasinya mulai berkurang. Suara burung ini terakhir kali terdengar pada tahun1987 dan dinyatakan punah. Akibat dari kepunahan burung ini adalah akibat dari datangnya tikus hitambabi dan nyamuk yang membawa penyakit terhadap burung. Burung ini juga punah sebagai akibat dari dirusaknya habitat burung ini.
Burung ini merupakan salah satu jenis burung pemakan madu berukuran kecil dari Hawaii, tetapi bukan spesies terkecil, dan memiliki panjang 20 cm. Burung ini berwarna hitam atau coklat sangat gelap yang mengkilau dengan kaki kecil berwarna kuning. Seperti pemakan madu lainnya, burung ini memiliki paruh yang tajam untuk memakan nektar. Sumber nektar kesukaan burung ini adalah spesies Lobelia dan pohon 'ohiʻa lehua. Burung ini juga makan invertebrata kecil dan buah. Burung ini adalah pembuat sarang berupa lubang di lembah berhutan tebal di pulau Kauai. Banyak binatang yang berhubungan dengan burung ini juga punah, seperti ‘Ō‘ō Hawai‘i‘Ō‘ō Moloka‘i, dan ‘Ō‘ō O‘ahu. Sedikit informasi yang diketahui tentang burung ini.

Sabtu, 14 Juli 2012

‘Ō‘ō Bishop ( Moho bishopi )

Ō‘ō Moloka‘i, kadang-kadang disebut ‘Ō‘ō Bishop ( Moho bishopi ) adalah burung penghisap madu yang sudah punah. Lionel Walter Rothschild menamainya dengan nama Charles Reed Bishop, pendiri Museum Bishop.
‘Ō‘ō Moloka‘i ditemukan pada tahun 1892 oleh Henry C. Palmer, kolektor burung untuk Lord Rothschild. Panjangnya sekitar 29 cm. Ekornya mencapai panjang 10 cm. Bulu burung ini berwarna hitam mengkilap dengan sayap kuning. Lagu mereka adalah dua kata sederhana, took-took, yang dapat terdengar sejauh 1 mil.


Burung ini endemik pada hutan di Molokai, dan gunung Olokai. Tulang fosil ditemukan di Maui, di gunung Olinda dengan ketinggian 4.500 diatas permukaan laut . Sedikit yang diketahui tentang ekologi burung ini. Burung ini makan dari nektar bunga famili Campanulaceae .


Alasan punahnya burung ini adalah karena hancurnya habitatnya, perburuan melalui mamalia yang diperkenalkan, perburuan karena bulu kuningnya untuk membuat topi, dan juga penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Burung ini terakhir kali terlihat tahun 1904 oleh George Campbell Munro. Pada tahun 1915, Munro mencoba untuk mengverifikasi laporan penglihatan burung ini, tetapi ia tidak pernah melihat burung ini lagi. Pada tahun 1981, beberapa orang menyatakan menemukan burung ini di Maui, tetapi hal ini tidak pernah dikonfirmasi.

Jumat, 13 Juli 2012

Argentavis Argentina


Kurang lebih pada enam juta tahun silam, seekor burung raksasa dengan bentuk yang mengejutkan terbang di atas sebuah padang rumput yang tak bertepi dalam sekilas pandang di wilayah Argentina. Bentuknya menyerupai pesawat mini model masa kini, dengan bobot lebih dari 60 kg. Namun burung raksasa Argentavis Argentina yang sudah punah ini tidak memiliki otot yang cukup kuat untuk mendorong sepasang sayapnya agar bisa terbang di angkasa. Karena itu bagaimana sebenarnya burung ini mampu terbang di angkasa luas, dahulu hal ini merupakan misteri yang sulit dipecahkan.

Kasus ini telah membuat bingung ahli paleontologi selama beberapa dasarwarsa. Namun dalam laporan investigasi yang dipublikasikan beberapa waktu lalu peneliti asal AS menemukan bahwa, pada dasarnya burung raksasa prasejarah ini adalah seekor ahli peluncur dan hewan tersebut tahu bagaimana menggunakan arus udara panas untuk terbang. Dalam sebuah forum komunikasi akademi ilmu pengetahuan AS, profesor geologi dari museum Institut Sains dan Teknologi Texas, Chartez mengatakan, "begitu naik ke angkasa, maka terbang pun tidak lagi menjadi soal bagi burung raksasa Argentina ini."


Chartez memimpin sebuah tim ahli, dengan prinsip teori dinamika udara (aerodinamika) meneliti prinsip terbang burung prasejarah ini, sekaligus menganalisa parameter terbang burung raksasa Argentina ini dengan simulasi terbang. Hasil penelitian mereka menunjukkan, bahwa seperti kebanyakan burung darat berpostur besar lainnya. Di mana meski tidak kuat untuk terbang karena postur mereka yang terlalu besar, namun burung raksasa ini malah dapat meluncur dengan mudahnya, dengan kecepatan terbang saat kondisi memungkinkan mencapai 100 km lebih.


Seperti misalnya gypsfulvus (sejenis elang bangkai), burung raksasa Argentina memerlukan arus udara panas yang naik dari pegunungan andes saat terbang, uap yang naik di padang rumput. Dan seperti burung berpostur besar lainnya, burung raksasa Argentina terbang berputar menggunakan arus udara panas, dalam jarak penerbangan dari sarang sampai menangkap mangsa, burung raksasa ini terbang dan terbang lagi dengan menggunakan uap panas.


Chartez mengatakan: "masalah terbesar yang dihadapi oleh burung raksasa Argentina ini saat terbang adalah bagaimana caranya meninggalkan permukaan, sebab saat berdiri di permukaan tanah, sang burung raksasa sama sekali tidak dapat terbang. Sehingga dengan demikian, burung raksasa ini mungkin terbang dengan menggunakan sayap peluncur seperti pilot."

Sumber 
http://bacaanmu.blogspot.com/2011/03/burung-pra-sejarah-terbesar-sedunia.html#ixzz20ZFZbxQC

Senin, 25 Juni 2012

Pinguin Waitaha ( Megadyptes waitaha )



Pinguin Waitaha ( Megadyptes waitaha ) ialah spesies pinguin di Selandia Baru yang telah punah yang ditemukan pada bulan November 2008.Spesies baru ditemukan oleh ilmuwan dari Universitas Otago dan Universitas Adelaide yang membandingkan tulang kaki sediaan pinguin berusia 500 tahun, 100 tahun, dan sekarang. Awalnya mereka percaya bahwa semuanya masuk spesies pinguin bermata kuning (Megadyptes antipodes) yang sudah terancam sejak permukiman manusia.
Namun, tulang yang berusia 500 tahun menghasilkan DNA yang berbeda dan "kurang lebih 10% lebih kecil daripada pinguin mata kuning. Kedua spesies itu berhubungan erat". "Penemuan kami menunjukkan bahwa pinguin mata kuning di Selandia Baru daratan bukanlah sisa populasi yang dahulu melimpah dan sekarang merosot, namun berasal dari sub-Antarktika yang relatif terkini dan menggantikan pinguin Waitaha yang sekarang lenyap," kata anggota tim Dr. Jeremy Austin, wakil direktur Australasian Centre for Ancient DNA.


Karena suku Māori setempat tidak punya catatan atas spesies berbeda ini, diperkirakan hewan ini telah punah antara tahun 1300-1500, segera setelah permukiman bangsa Polinesia di Selandia Baru. Laporan itu diterbitkan di jurnal ilmiah Proceedings of the Royal Society B

Rabu, 30 Mei 2012

Cica Matahari ( Crocias albonotatus )


Spotted Crocias (Crocias albonotatus)\
Cica Matahari (Crocias albonotatus) adalah spesies burung dalam famili Timaliidae.Spesies ini endemik terhadap Indonesia.Burung ini kini terancam karena kehilangan habitat.
 

Sample text

Sample Text