Social Icons

Pages

Rabu, 11 Juli 2012

Bisnis Sandal Jepit Yang Tidak Bisa Diremehkan

Jangan meremehkan walau hanya sandal jepit, ternyata bisa mendatangkan keberuntungan yang besar. Bisnis sandal jepit yang satu ini memang bukan sandal jepit biasa, tetapi sandal jepit lucu dan unik. Berkat bisnis sandal jepit unik yang kemudian disebut sandal Khas Magelangan ini Kehidupan Sadiqin menjadi lebih baik. Omzet bisnis sandal jepitnya puluhan juta hingga merambah daerah di luar Jawa seperti Kalimantan, Bali dan Sulawesi.

Bisnis sandal jepit unik dari Kampung Tulung, Magelang Tengah ini sukses karena mengaplikasikan kata-kata atau celoteh-celoteh khas orang-orang Magelang seperti Leda-lede, Pecas Ndahe, Plonga-plongo, Plinthat-plinthut, dan lain sebagainya pada sepasang sandal. Hal inilah yang sekaligus menjadi icon produk Magelang.

Inspirasi bisnis Sadiqin menekuni usaha sandal kreatif ini pada tahun 1999 ,saat anaknya mendapat souvenir ulang tahun berupa sepasang sandal dengan model unik dan lucu. Kemudian ia dan istrinya coba-coba membuat rancangan sandal serupa dengan sedikit kreasi namun tetap khas Magelang. Dan ternyata prosuknya ini digemari banyak orang dan laku di pasaran.

Karena prospek pasar bisnis sandal unik ini cukup bagus, ia rela melepaskan bisnis jok mobil yang telah ia tekuni. Yang membuat unik dari sandal khas Magealang ini adalah desain yang ia buat dengan tangan bukan dengan komputer. Karena jika didesain dengan komputer maka akan mudah ditiru.

Kelebihan lain sandal-sandal unik Sadiqin juga terletak pada bahan yang ringan terbuat dari spon api. Kemudian pada aplikasi desain, yakni dengan cara cutting atau puzzle bukan dengan teknik sablon. Sehingga, gambar atau tulisan tidak mudah hilang jika kena air atau kotoran. “Selain itu, pembeli juga boleh memesan desain sesuai keinginannya, bisa gambar, tulisan, atau abstrak, dan satu hari jadi.

Awal mula produksinya tidaklah terlalu banyak, Promosinya pun hanya dari mulut ke mulut. Untuk bisa masuk ke pameran atau sentra UMKM di Kota Magelang waktu itu cukup susah, karena alasan harga yang kami patok Rp 25.000 per pasang dinilai masih kemahalan.

Namun ia terus berinovasi hingga akhirnya usahanya itu pun berjalan sukses hingga sekarang. Setiap bulan ia mampu memproduksi rata-rata hingga 8.000-an pasang sandal. Jika harga per pasang rata-rata Rp 25.000, maka per bulan ia meraup omzet sekitar Rp 200 juta.(/Kompas).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text